BAGAIMANA PROSES CERAI TALAK

  • Home
  • BAGAIMANA PROSES CERAI TALAK
Image

BAGAIMANA PROSES CERAI TALAK

  • 01 Oktober 2018 09:49
  • Admin
BAGAIMANA PROSES CERAI TALAK APA YANG DIMAKSUD CERAI TALAK? Sebelum membahas apa itu cerai talak, sebelumnya kami akan memberikan pengertian perceraian menurut hukum adalah putusnya perkawinan dua orang antara suami istri di muka peradilan sesuai dengan syarat yang telah di tentukan oleh undang-undang, dan sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) no 9 tahun 1975 tentang pelakasanaan undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Di Indonesia Pengaturan masalah perceraian secara umum terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP), Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“PP 9/1975”). Dalam UUP (Undang-undang Perkawinan) menjelaskan perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan, hal ini Berdasarkan Pasal 38 UUP. Sedangkan perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan (mediasi), hal ini diatur dalam Pasal 39 ayat (1). BAGI PASANGAN MUSLIM, PERCERAIAN TUNDUK PADA KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) Bagi pasangan muslim perceraian diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) yang berlaku berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991. Dalam KHI menjelasakan perceraian ada dua (2) jenis, yaitu cerai gugat dan cerai talak, yang dimaksud cerai gugat dalam KHI adalah Gugatan perceraian yang diajukan oleh istri atau kuasanya pada Pengadilan Agama, yang daerah hukumnya tempat tinggal penggugat (Istri) kecuali istri meninggalkan tempat kediaman tanpa izin suami, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 132 ayat (1) KHI. Sedangkan cerai Talak menurut KHI adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian, yang menjadi pemohon adalah suami dan tempat mengajukan gugatan adalah di tempat tinggal istrti / kediaman istri, hal ini pengaturannya diatur dalam Pasal 114 KHI. ARTI TALAK SECARA UMUM Dalam Islam, salah satu bentuk pemutusan hubungan ikatan perkawinan karena sebab-sebab tertentu yang tidak memungkinkan lagi bagi suami istri meneruskan hidup berumah tangga disebut thalaq/talak. Talak diatur lebih lanjut dalam Pasal 129, Pasal 130, dan Pasal 131 KHI. Pasal 129 KHI berbunyi: “Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.” Jadi, talak yang diakui secara hukum negara adalah yang dilakukan atau diucapkan oleh suami di Pengadilan Agama. TALAK SATU DAN TALAK DUA Dalam Islam hanya dikenal dua kali talak, yaitu Talak Satu dan Talak Dua hal ini dikatakan dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 229 mengatur hal talak, yaitu talak hanya sampai dua kali yang diperkenankan untuk rujuk kembali atau kawin kembali antara kedua bekas suami istri itu. Mengenai talak satu atau talak dua ini disebut juga talak raj’i atau talak ruj’i, yaitu talak yang masih boleh dirujuk, pengaturannya terdapat dalam Pasal 118 KHI yang berbunyi: “Talak raj'i adalah talak kesatu atau kedua, dimana suami berhak rujuk selama istri dalam masa iddah.” SEDANGKAN TALAK TIGA Berdasarkan Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 230, kalau seorang suami telah menjatuhkan talak yang ketiga kepada istrinya, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya untuk mengawininya sebelum perempuan itu kawin dengan laki-laki lain. TATA CARA PROSES MENGAJUKAN GUGAT CERAI TALAK Cara mengajukan gugatan cerai talak suami kepada isterinya adalah dengan mengajukan Permohonan / Gugatan Cerai Talak ke Pengadilan Agama yang meliputi tempat kediaman (bukan alamat KTP) pihak isterinya. Jika isterinya pergi meninggalkan rumah kediaman bersama, ataupun saat ini keberadaanya tidak diketahui, maka gugatan diajukan ke Pengadilan Agama yang meliputi tempat kediaman Pemohon (Suami). Adapun beberapa alasan yang dapat bagi seorang suami yang ingin mengajukan gugatan / permohonan cerai talak adalah sebagai berikut : 1. Isteri berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; 2. Isteri meninggalkan Suami selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin Suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya; 3. Isteri mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung; 4. Isteri melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan Suaminya; 5. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; 6. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. PENGERTIAN NAFKAH MUT'AH DAN NAFKAH IDDAH apabila permohonan cerai talak dari suami dikabukan oleh Hakim Pengadilan Agama, maka mantan suami wajib memberikan nafkah mut’áh dan nafkah iddah kepada mantan istri. Menurut pengertiannya Nafkah mut’ah adalah pemberian dari bekas suami kepada istrinya yang dijatuhi talak berupa uang atau benda lainnya. Sedangkan Nafkah iddah adalah nafkah yang wajib diberikan kepada istri yang ditalak dan nafkah ini berlangsung selama 3-12 bulan tergantung kondisi haid istri yang dicerai. Nafkah mut’ah dan nafkah iddah hanya berlaku pada perceraian suami-istri pemeluk agama Islam (Muslim) yang diproses di Pengadilan Agama. nafkah Mut'ah dan nafkah iddah hanya berlaku bagi perkara permohonan talak (cerai talak) dimana suami yang mengajukan talak terhadap istri. Sedangkan perkara gugatan cerai yang diajukan istri kepada suami,nafkah mut’ah dan nafkah iddah tidak berlaku. MASA IDDAH Dalam Perceraian ada masa iddah, Adapun yang dimaksud dengan masa iddah (waktu tunggu) adalah waktu yang berlaku bagi seorang istri yang putus perkawinannya dari bekas suaminya. Waktu tunggu (masa iddah) adalah sebagai berikut: a. Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qabla al dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari. b. Apabila perkawinan putus karena perceraian waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari. c. Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. d. Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. Demikian artikel ini semoga dapat membantu, jika anda membutuhkan bantuan hukum atau tidak ada waktu untuk menghadiri sidang maka anda bisa menggunakan jasa pengacara KANTOR HUKUM DVA & PARTNERS , dan tentunya ini akan memudahkan anda untuk menyelesaikan permasalah anda..

Punya Masalah Hukum ?

Konsultasikan dengan Kami Lewat Chat Whatsapp


0813-6737-9299
× Klik untuk konsultasi
× Klik untuk konsultasi